Search

Memuat...

Translate

Loading...

Media Belajar

Rabu, 05 Maret 2014

Siswa ku ternyata bisa

Sabtu (1/03), bertempat di SMPN 1 Cimarga Kabupaten Lebak kegiatan O2SN untuk tingkat wilayah bina (mungkin di daerah lain adalah gugus atau MKKS) dilaksanakan
dengan cabang olah raga yang di pertandingkan, Atletik, Bulu Tangkis, Bola Voli, Karate, dan Catur dandiikuti oleh 22 SMP yang ada di wilayah wilbi 4 ( Kecamatan Cimarga, Leuwidamar, Bojongmanik, dan Cirinten.

SMPN 4 Cirinten mengirimkan 10 atlet untuk cabang Bola Voli, 1 atlet untuk cabang Atletik, dan 1 atlet untuk cabang Catur.

Dari ketiga cabang pertandingan yang di ikuti ternyata SMPN 4 Cirinten dapat meraih juara 1 Catur atas nama Ridwan kelas 7 dan Juara 2 untuk Cabang Atletik atas nama umar juga masih duduk di kelas 7. Kedua atlet  yang menjadi juara akan menjadi wakil dari Wilbi untuk ke tingkat Kabupaten.

Luar biasa, sekolah yang baru berdirkurang lebih 11 bulan sudah dapat menoreh prestasi walau itu baru di tingkat wilbi, sebenarnya yag luar biasa itu bukan sekolahnya tetapi siswa dan pelatihnya yang sudah bersungguh-sungguh berjuang tuk meraih juara.

Segenap keluarga besar mengucapkan selamat kepada dua siswa ( Ridwan dan Umar ), semoga dapat maju terus ke tingkat Kabupaten bahkan sampai ke tingkat Nasional dan itu bukan hal yang mustahil.


Rabu, 10 Juli 2013

Memulai dari awal

Sebuah perjalanan panjang, berawal dari titik nol berbekal sebuah niat untuk mewujudkan sebuah impian, lalu kapan dan dimana akhir perjalanannya ? Wallahu a'lam.
Tayangan film ini sebelumnya sudah di edit dengan lagu-lagu yang sudah disesuaikan dengan gambar film yang saya yakini bahwa itu bagus dan cocok untuk film ini, tetapi begitu upload di youtube terkena peringatan adanya pelanggaran hak cipta. Maka melalui media ini juga saya memberikan informasi tambahan yang saya yakin sebelumnya sudah mengetahui pula, bahwa dengan dasar apapun jika kita membuat ilustrasi musik atau suara dengan menggunakan suara atau musik yang bukan ciptakan sendiri maka itu oleh youtube dianggap pelanggaran hak cipta terkecuali jika memang ilustrasi musik atau suara itu memang sudah bebas atau sudah mendapatkan ijin penggunaannya.
Minggu, 12 Mei 2013

Menata Sekolah Baru

SMP Negeri 4 Cirinten adalah Unit sekolah baru yang dibantu oleh Dana Hibah Australia AUS AID, pembangunan di mulai pada bulan September 2012 dan selesai Akhir April 2013.
Sekolah ini sampai akhir Mei 2013 belum di serah terimakan dari Kemendikbud ke Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak. tetapi mengingat siswa yang ada untuk kelas 7 sampai kelas 9 masih ikut belajar di SDN 2 Badur, maka saya sebagai Kepala Sekolah meminta kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak melalui KPUSB untuk mengisi sampai  sekolah tersebut benar-benar di serah terimakan.

10 Mei 2013, mulai membereskan apa yang harus dibereskan, seperti tata letak mebeler Ruang Kepala Sekolah dan Ruang Guru serta Kelas. ini dikerjakan bersama Guru dan para siswa. terlihat bahwa dengan akan pindahnya belajar seleuruh siswa bersemangat membersihan seluruh kelas dan beberapa ruangan disekolah, dan terlihat juga banyak sekali kebutuhan dasar yang harus dipenuhi baik dari yang kecil dan ringan sampai kepada kebutuhan yang cukup besar, seperti ATK, Peralatan minum, peralatan listrik speeri kabel dan stop kontak (karena yang ada belum ada).
itulah tantangan untuk mewujudkan Impian SMPN 4 Cirinten menjadi sekolah yang berprestasi dan berbudi pekerti, dimulai dari yang kecil. doa dan harapan tentunya saya sebagai kepala sekolah ingin membawa seluruh kelauraga besar dan para siswa SMPN 4 Cirinten ke arah yang lebih baik, sehingga SMPN 4 Cirinten enjadi kebanggaan semua... Amiien.

Belajar Tampil

Gunung Kencana (28/3/2013), Siap grak... itu suara yang terdengar ketika orang melewati bangunan sekolah Madrasah Aliyah di jl Raya Gunung Kencana sebagai penyelenggara kegiatan LKBB dan beberapa pertandingan lain seperti, bola voli, catur, tenis meja dan cerdas cermat. 

Kegiatan itu katanya rutin dilakukan setiap menjelang akhir tahun dan banyak di ikuti oleh siswa SMP dan Mts yang ada di Gunung Kencana dan Cirinten, salah satu pesertanya adalah SMP Negeri 4 Cirinten.

Pada LKBB tersebut siswa SMPN 4 Cirinten belum mendapatkan juara, tetapi hal yang patut dibanggakan adalah berani tampilnya para siswa mengingat sekolahnya saja masih ikut di SD Badur II dan Insya Alloh tahun ajaran yang akan datang 2013/2014 semua siswa akan menempati bangunan baru sebagai gedung USB.

Perhatian dan semangat para guru pembina dan yang melatih seluruh siswa yang ikut lomba juga merupakan  modal dan aset yang harus di banggakan dan selalu ditingkatkan kemampuannya, sehingga SMP Negeri 4 dapat berkibar dengan prestasi.
Minggu, 17 Maret 2013

Meningkatkan Kreativitas Menulis Siswa Melalui Pembelajaran yang Mengundang

oleh: Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd,
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah mata pelajaran wajib yang harus diberikan kepada siswa di SMP. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) nomor 22 tahun 2006 tentang Standar isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang mendukung program KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang diberlakukan di sekolah.

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) mata pelajaran TIK di KTSP pada tingkat SMP adalah siswa diharapkan mampu memahami penggunaan TIK dan prospeknya di masa datang, menguasai dasar-dasar keterampilan komputer, menggunakan perangkat pengolah kata dan pengolah angka untuk menghasilkan dokumen sederhana, memahami prinsip dasar internet/intanet dan menggunakannya untuk memperoleh informasi.

Salah satu materi yang diberikan pada pelajaran TIK adalah internet. Perkembangan internet yang begitu pesat membuat kita harus lebih kreatif dalam pemanfaatannya. Dampak positif dan negatif dari perkembangan internet telah jelas kita rasakan bersama. Salah satu dampak positif yang kita rasakan dari perkembangan itu adalah menjamurnya tempat membuat website atau webblog gratis di internet yang dapat mempublikasikan diri kita sendiri ke seluruh dunia. Siapaun dapat dengan mudah membuatnya asalkan memiliki email.

Penggunaan TIK atau ICT (Information and Comunication Technology) menjadi sebuah cara yang efektif dan efisien dalam menyampaikan informasi dan saling berkomunikasi. Teknologi yang mendukung cara tersebut makin disempurnakan dari waktu ke waktu. Perkembangan ICT yang begitu cepat terkadang membuat kita belum siap untuk memanfaatkannya secara maksimal. Termasuk dalam pelajaran internet di sekolah. Siswa hanya diarahkan untuk memperoleh atau mencari informasi di internet, dan bukan menciptakan informasi. Hal ini terlihat dari Standar Kompetensi (SK) dalam KTSP 2006 yang hanya mengarahkan siswa untuk memahami dasar penggunaan internet/intranet dan menggunakan internet untuk memperoleh informasi. Akibatnya, siswa kurang terlatih untuk menciptakan atau memberikan informasi di internet. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya tugas-tugas di sekolah yang ditugaskan oleh guru untuk mencari informasi di internet.

Oleh karena itu perlu dicari solusi agar siswa tidak melulu mencari informasi, tetapi juga dapat menciptakan informasi di internet. Untuk dapat menciptakan informasi, siswa harus dilatih untuk memiliki kreativitas dalam menulis. Dengan memiliki kemampuan menulis, siswa diharapkan dapat mengekspresikan diri, melakukan sosialisasi, promosi dan berbagi kepada sesama. Hal itu dapat terjadi bila siswa memiliki dan mengelola Blog yang terupdate dengan baik.

Blog adalah tempat di mana kita dapat menciptakan, memberikan informasi dan berkomunikasi antar sesama kita di seluruh dunia. Blog adalah situs web yang mudah digunakan, di mana kita dapat dengan cepat memposting pemikiran kita sendiri, berinteraksi dengan orang lain, dan banyak lagi. Semua serba gratis.

Blog di internet sangat baik sekali manfaatnya untuk kita. Manfaat paling terasa dari Blog adalah menumbuhkan kreativitas kita dalam keterampilan menulis. Blog ibarat buku tulis atau buku agenda kosong yang siap untuk diisi dengan tulisan-tulisan orisinil kita. Dengan Blog, kita dituntut untuk kreatif membuat tulisan-tulisan kita sendiri yang enak dibaca, bermanfaat untuk orang lain, dan mengundang orang untuk beramai-ramai datang ke blog kita untuk memberikan komentar.

Blog telah menjadi trend perkembangan TIK berbasis internet saat ini. Bahkan Blog sudah banyak diperlombakan oleh berbagai lembaga (baik pemerintah maupun swasta). Aplikasi Blog juga terbukti sangat membantu guru dalam mengembangkan pembelajaran di sekolah. Dengan blog, guru dapat memasukkan materi pelajarannya, sehingga siswa dapat belajar dari blog yang dibuat guru. Proses pembelajaran akan terjadi, bila blog yang dibuat guru menarik siswa untuk membacanya, sehingga terjadi interaksi antara siswa dan guru. Karenanya, guru pun harus dapat mengajarkan siswa membuat Blog di internet. Proses kreatif akan muncul dari pembuatan Blog yang sangat interaktif ini. Melalui pembuatan Blog akan terlihat kreativitas menulis siswa dan guru. Karena itu diperlukan proses pembelajaran yang mengundang siswa untuk aktif, reflektif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PARIKEM).

Namun sangat disayangkan, menjamur dan tumbuhnya blog di internet tidak diimbangi dengan budaya menulis di kalangan siswa, sehingga banyak sekali blog yang tidak terupdate (terisi tulisan baru) dengan baik, bahkan isinya (contentnya) banyak yang kosong dan sepi dari pengunjung.

Kenyataan yang ada di kelas-kelas sekolah kita, peserta didik kurang banyak membaca dan mendengar sehingga mereka kurang mampu menulis dengan baik. Menulis seolah menjadi beban berat yang sangat sulit dilakukan. Padahal menulis adalah sebuah kreativitas yang dapat dimunculkan apabila kita sering berpikir dan berlatih menulis. Hal ini sungguh memprihatinkan dan perlu dicari solusinya dalam proses pembelajaran kita di sekolah.

Prof. Dr. Wina Sanjaya menuliskan dalam bukunya bahwa, masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita saat ini adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas hanya diarahkan kepada proses kemampuan anak menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupannya sehar-hari. Akibatnya ketika mereka lulus, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi miskin aplikasi.

Karena itu perlu dibangun sebuah sistem pembelajaran berbasis TIK yang mengharuskan siswa belajar melalui media online di internet, sehingga siswa tidak hanya belajar melalui tatap muka di kelas, tetapi juga siswa dapat belajar dimana saja dan kapan saja. Mereka tidak harus bertatap muka dengan guru. Guru dan siswa dapat menggunakan internet untuk mengembangkan pembelajarannya. Pembelajaran seperti itu biasa disebut dengan istilah e-learning.

Dengan jumlah pertemuan tatap muka yang sedikit di kelas, membuka peluang pembelajaran internet dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas. Karena waktu jam pertemuan yang lebih singkat, maka diperlukan media internet yang berupa aplikasi Blog untuk memasukkan materi-materi esensial yang harus dibaca dan dipelajari siswa. Dengan berbantuan media aplikasi berbasis blog, diharapkan program layanan ini juga bisa tersebar merata dengan kurikulum yang sama di seluruh Indonesia sesuai dengan buku pedoman.

Maraknya model pembelajaran berbasis TIK juga berakibat pada perubahan budaya belajar dalam konteks pembelajarannya. Termasuk pula budaya belajar dengan menggunakan internet. Dimana siswa dituntut mandiri dalam belajar melalui pendekatan yang sesuai agar siswa mampu mengarahkan, memotivasi, mengatur dirinya sendiri dalam pembelajaran yang mengundang. Termasuk mencari informasi yang bermanfaat. Dengan pembelajaran yang mengundang diharapkan siswa dapat aktif bertanya, mampu mengkontruksi pemikirannya sendiri dan akan memunculkan kreativitasnya, khususnya dalam kreativitas menulis pada pembuatan blog di internet.

Saat ini belum banyak sekolah yang memanfaatkan jaringan internet dan intranet sebagai sarana pemanfaatan TIK dalam proses pembelajarannya. Bahkan untuk mendownload materi pembelajaran dari buku elektronik pun sekolah masih mengalami kendala. Biaya akses internet masih mahal, dan jaringan intranet (LAN) di sekolah pun kurang berjalan dengan baik. Padahal guru TIK dituntut untuk mengajarkan internet dan intranet. Akibatnya guru harus pandai mencari metode pembelajaran atau cara yang tepat agar materi yang diberikan sampai ke otak siswa. Belum banyaknya sekolah yang berkonsentrasi penuh terhadap hal di atas membuka lahan penelitian di bidang TIK terbuka lebar untuk diteliti.

Dari proses pembuatan blog siswa inilah, guru berupaya meningkatkan kreativitas menulis siswa yang sekarang ini kurang terperhatikan dengan baik. Timbullah berbagai pertanyaan. Mengapa siswa malas untuk menulis? Bukankah siswa saat ini adalah kumpulan anak yang cerdas dan berbakat istimewa? Apakah karena gurunya yang kurang memberikan dorongan atau motivasi kepada siswa untuk mampu menulis? Mengapa siswa lebih senang bermain games daripada menulis artikel? Bagaimanakah menarik siswa agar mampu menulis dengan baik? Apakah dengan menulis di Blog akan terjadi pembelajaran yang mengundang? Bagaimanakah memberikan motivasi kepada siswa agar dapat mengelola Blognya dan selalu terupdate dengan baik setiap bulannya? Lantas bagaimanakah meningkatkan kreativitas menulis siswa melalui pembelajaran yang mengundang pada pembuatan Blog di internet?

Berdasarkan hal tersebut di atas, guru merencanakan tindakan perbaikan untuk meningkatkan kreativitas menulis siswa melalui pembelajaran yang mengundang dengan memberikan tugas-tugas internet pada proses pembuatan Blog. Dimana siswa diminta untuk menuliskan apa saja yang dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembacanya. Dari tindakan ini diharapkan kreativitas menulis siswa meningkat.

Penulis adalah seorang Guru, Trainer, Motivator, Blogger, Fotografer, Pembicara Seminar, Simposium, Workshop PTK dan TIK, Eduprenership, Pendidikan Karakter Bangsa, serta Praktisi ICT. 

Sumber :
http://www.kesekolah.com/solusi-pendidikan/meningkatkan-kreativitas-menulis-siswa-melalui-pembelajaran-yang-mengundang.html
Jumat, 15 Maret 2013

Ragam Metode Pembelajaran

Pembelajaran, Menurut Usman ( 2000 : 4 ) “ … proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu”. Proses pembelajaran merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam pembelajaran yang satu sama lain saling berhubungan dalam sebuah rangkaian untuk mencapai tujuan. Menurut Sudjana ( 1989 : 30 ) yang termasuk dalam komponen pembelajaran adalah “tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian“. Metode mengajar yang digunakan guru hampir tidak ada yang sisa-sia, karena metode tersebut mendatangkan hasil dalam waktu dekat atau dalam waktu yang relatif lama. 
Hasil yang dirasakan dalam waktu dekat dikatakan seabagi dampak langsung (Instructional effect) sedangkan hasil yang dirasakan dalam waktu yang reltif lama disebut dampak pengiring (nurturant effect) biasanya bekenaan dengan sikap dan nilai. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000,194) Macam-macam Metode Pembelajaran : 
 1. METODE CERAMAH 
'Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisonal. Karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dan anak didik dalam interaksi edukatif. a. Kelebihan Metode Ceramah 1) Guru mudah menguasai kelas. 2) Mudah dilaksanakan. 3) Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar. 4) Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar. b. Kekurangan Metode Ceramah 1) Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata). 2) Anak didik yang lebih tanggap dari sisi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya. 3) Bila terlalu lama membosankan. 4) Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik. 5) Menyebabkan anak didik pasif.

 2. METODE PROYEK
Metode proyek adalah suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menggunakan unit-unit kehidupan sehari-hari sebagai bahan pelajarannya. Bertujuan agar anak didik tertarik untuk belajar. a. Kelebihan Metode Proyek 1) Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. 2) Melalui metode ini, anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari. b. Kekurangan Metode Proyek 1) Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini. 2) Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru, sedangkan para guru belum disiapkan untuk ini. 3) Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan. 4) Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas. 

 3. METODE EKSPERIMEN 
 Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Dengan metode ini anak didik diharapkan sepenuhnya terlibat merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variabel, dan memecahkan masalah yang dihadapinya secara nyata. a. Kelebihan Metode Eksperimen 1) Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku. 2) Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi, suatu sikap yang dituntut dari seorang ilmuwan. 3) Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaannya yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia. b. Kekurangan Metode Eksperimen 1) Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan eksperimen. 2) Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, anak didik harus menanti untuk melanjutkan pelajaran. 3) Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi. 

 4. METODE PEMBERIAN TUGAS DAN RESITASI 
Pemberian tugas dengan arti guru menyuruh anak didik misalnya membaca, tetapi dengan menambahkan tugas-tugas seperti mencari dan membaca buku-buku lain sebagai perbandingan, atau disuruh mengamati orang/masyarakatnya setelah membaca buku itu. Dengan demikian, pemberian tugas adalah suatu pekerjaan yang harus anak didik selesaikan tanpa terikat dengan tempat. a. Kelebihan Metode Pemberian Tugas dan Resitasi 1) Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama. 2) Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab, dan berdiri sendiri. b. Kekurangan Metode Pemberian Tugas dan Resitasi 1) Seringkali anak didik melakukan penipuan di mana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri. 2) Terkadang tugas itu dikerjakan orang lain tanpa pengawasan. 3) Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual. 

5. METODE DISKUSI
 Diskusi adalah memberikan altematif jawaban untuk membantu memecahkan berbagai problem kehidupan. Dengan catatan persoalan yang akan didiskusikan harus dikuasai secara mendalam. a. Kelebihan Metode Diskusi 1) Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan dan bukan satu jalan (satu jawaban saja). 2) Menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik. 3) Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya sendiri dan membiasakan bersikap toleran. b. Kekurangan Metode Diskusi 1) Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar. 2) Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas. 3) Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara. 4) Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal. 

 6. METODE LATIHAN 
Metode latihan (driil) disebut juga metode training, yaitu suatu cara mengajar untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga, sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan. a. Kelebihan Metode Latihan 1) Dapat untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat. 2) Dapat untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya. 3) Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan. b. Kekurangan Metode Latihan 1) Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dan pengertian. 2) Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan. 3) Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan. 4) Dapat menimbulkan verbalisme.

 7. PICTURE AND PICTURE
 Langkah-langkah : 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Menyajikan materi sebagai pengantar. 3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi. 4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. 5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut. 6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. 7. Kesimpulan/rangkuman. 

8. NUMBERED HEAD TOGETHER ((KEPALA BERNOMOR) (SPENCER KAGAN, 1992)
 Langkah-langkah : 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. 2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. 3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya. 4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka. 5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain. 6. Kesimpulan. 

 9. COOPERTIVE SCRIPT (DANSEREAU CS., 1985) 
Skrip kooperatif : Metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Langkah-langkah : 1. Guru membagi siswa untuk berpasangan. 2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan. 3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar. 4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar : · Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap. · Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. 5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas. 6. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru. 7. Penutup. 

 10. KEPALA BERNOMOR STRUKTUR (MODIFIKASI DARI NUMBER HEADS) 
Langkah-langkah : 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. 2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya. 3. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. 4. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka. 5. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain. 6. Kesimpulan. 

 11. JIGSAW (MODEL TIM AHLI) (ARONSON, BLANEY, STEPHEN, SIKES, AND SNAPP, 1978) 
Langkah-langkah : 1. Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim. 2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda. 3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan. 4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka. 5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. 6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. 7. Guru memberi evaluasi. 8. Penutup. 

 12. ARTIKULASI 
Langkah-langkah : 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa. 3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang. 4. Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya. 5. Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya. 6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa. 7. Kesimpulan/penutup. 

 13. MIND MAPPING
 Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban. Langkah-langkah : 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban. 3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang. 4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi. 5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru. 6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru. 

 14. MAKE - A MATCH (MENCARI PASANGAN) 
Langkah-langkah : 1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu. 3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. 4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). 5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. 7. Demikian seterusnya. 8. Kesimpulan/penutup. 

 15. THINK PAIR AND SHARE (FRANK LYMAN, 1985)
 Langkah-langkah : 1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru. 3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing. 4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya. 5. Berawal dari kegiatan tersebut, Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa. 6. Guru memberi kesimpulan dan penutup.

 16. BERTUKAR PASANGAN 
Langkah-langkah : 1. Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru bisa menunjuk pasangannya atau siswa memilih sendiri pasangannya). 2. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya. 3. Setelah selesai setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain. 4. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan, kemudian pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mencari kepastian jawaban mereka. 5. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula. 

 17. SNOWBALL THROWING
 Langkah-langkah : 1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. 2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. 4. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. 5. Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit. 6. Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. 7. Evaluasi. 8. Penutup. 

 18. TEBAK KATA 
Media : · Buat kartu ukuran 10X10 cm dan isilah ciri-ciri atau kata-kata lainnya yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak. · Buat kartu ukuran 5X2 cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempel pada dahi ataudiselipkan di telinga. Langkah-langkah : 1. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi ± 45 menit. 2. Guru menyuruh siswa berdiri berpasangan di depan kelas. 3. Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10x10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang siswa yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5x2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga. 4. Sementara siswa membawa kartu 10x10 cm membacakan kata-kata yang tertulis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10x10 cm. jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau telinga. 5. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya, dan seterusnya. CONTOH KARTU Perusahaan ini tanggung-jawabnya tidak terbatas Dimiliki oleh 1 orang Struktur organisasinya tidak resmi Bila untung dimiliki,diambil sendiri NAH … SIAPA … AKU ? JAWABNYA : PERUSAHAAN PERSEORANGAN 

19. KELILING KELOMPOK 
 Maksudnya agar masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lainnya. Caranya : 1. Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok menilai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan. 2. Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya. 3. Demikian seterusnya giliran bicara bisa dilaksanakan arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan. 

 20. COURSE REVIEW HORAY 
Langkah-langkah : 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi. 3. Memberikan kesempatan siswa tanya jawab. 4. Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing siswa. 5. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (Ö) dan salan diisi tanda silang (x). 6. Siswa yang sudah mendapat tanda Ö vertikal atau horisontal, atau diagonal harus berteriak horay … atau yel-yel lainnya. 7. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh. 8. Penutup. ---------- 

 Sumber : Djamarah, Bahri, Syaiful. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta : PT Rineka Cipta, 2000. Sagala, H.Syaiful. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : CV Alfabeta, 2006. Usman, Uzer, Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosda karya, 2000. Sudjana, Nana dan Ibrahim, Penelitian dan Penelitian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru, 1989. ________,http://ktsp.diknas.go.id/download/ktsp_sma/14.ppt ________,http://dos.suwanda.wordpress.com/